KELAS AVES
Kelas
Aves adalah kelas hewan vertebrata yang berdarah panas dengan memiliki bulu dan
sayap. Tulang dada tumbuh membesar dan memipih, anggota gerak belakang
beradaptasi untuk berjalan, berenang dan bertengger. Mulut sudah termodifikasi
menjadi paruh, punya kantong hawa, jantung terdiri dari empat ruang, rahang
bawah tidak mempunyai gigi karena gigi-giginya telah menghilang yang digantikan
oleh paruh ringan dari zat tanduk dan berkembang biak dengan bertelur. Kelas
ini dimanfaatkan oleh manusia sebagai sumber makanan, hewan ternak, hobi dalam
peliharaan. Dalam bidang industri bulunya dapat dimanfaatkan contohnya baju,
hiasan dinding, dan lainnya (Mukayat, 1990).
Anggota
kelas aves memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap lingkungannya, sehingga
hewan ini mampu bertahan dan berkembang biak pada suatu tempat. Struktur dan
fisiologi burung diadaptasikan dalam berbagai cara untuk penerbangan yang
efisien. Yang paling utama di antara semuanya adalah sayap. Meskipun sekarang
sayap itu memungkinkan burung untuk terbang jauh mencari makanan yang cocok dan
berlimpah, mungkin saja sayap itu dahulu timbul sebagai adaptasi yang membantu
hewan ini lolos dari pemangsanya. Adanya burung-burung yang tidak memiliki
sayap yang hidup di Antartika, Selandia Baru dan daerah-daerah lain yang jarang
ada pemangsanya membuktikan hal ini (Kimball, 1983).
Kelas
aves memiliki kemajuan bila dibandingkan dengan kelas-kelas yang mendahuluinya
dalam hal: Tubuh mempunyai penutup yang bersifat isolasi. Darah vena dan arteri
terpisah secara sempurna dalam sirkulasi pada jantung. Pengaturan suhu tubuh.
Rata-rata metabolisme aves tinggi. Mempunyai kemampuan untuk terbang. Suaranya
berkembang dengan baik. Menjaga anaknya dengan baik dan cara khusus (Jasin,
1992).
Bulu
adalah ciri khas kelas aves yang tidak dimiliki oleh vertebrata lain. Hampir
seluruh tubuh aves ditutupi oleh bulu, yang secara filogenetik berasal dari
epidermal tubuh, yang pada reptile serupa dengan sisik. Secara embriologis bulu
aves bermula dari papil dermal yang selanjutnya mencuat menutupi epidermis.
Dasar bulu itu melekuk ke dalam pada tepinya sehingga terbentuk folikulus yang
merupakan lubang bulu pada kulit. Selaput epidermis sebelah luar dari kuncup
bulu menanduk dan membentuk bungkus yang halus, sedang epidermis membentuk
lapisan penyusun rusuk bulu.Sentral kuncup bulu mempunyai bagian epidermis yang
lunak dan mengandung pembuluh darah sebagai pembawa zat-zat makanan dan proses
pengeringan pada perkembangan selanjutnya (Jasin, 1992).
Fotosintesis
Aktivitas kehidupan di biosfer pada
dasarnya digerakkan oleh tenaga dari cahaya matahari. Secara sepintas memang
tidak nampak hubungan cahaya matahari dengan hewan yang dapat berlari dengan
cepat. Namun apabila diteliti dengan cermat akan diketahui bahwa tenaga untuk
berlari itu berasal dari pemecahan karbohidrat yang terkandung di dalam daun
rerumputan yang dimakan oleh hewan tersebut, dan karbohidrat yang dipecah
berasal dari suatu reaksi kimia didalam daun yang berlangsung dengan
menggunakan energi cahaya matahari. Reaksi pembentukan karbohidrat ini
dinamakan fotosintesis (Anwar, 1986).
Proses
fotosintesis hanya bisa dilakukan oleh tumbuhan yang mempunyai klorofil. Proses
ini hanya akan terjadi jika ada cahaya dan melalui perantara pigmen hijau daun
yaitu klorofil yang terdapat dalam kloroplas. Selain fotosintesis juga
dipengaruhi oleh beberapa faktor. Kurangnya pengetahuan tentang proses
fotosintesis dan faktor-faktor yang mempengaruhinya baik faktor internal maupun
faktor eksternal yang melatarbelakangi dilakukannya percobaan tentang
fotosintesis ini. Disamping itu percobaan ini ingin membuktikan apakah benar
atau tidak bahwa dalam proses fotosintesis dihasilkan glukosa dan dilepaskan
oksigen. Oleh karena itu penulis ingin mendapatkan pemahaman terhadap hal tersebut
dan mencoba melakukan percobaan fotosintesis (dalam hal ini percobaan Sachs dan
Ingenhousz). Semoga laporan ini dapat menjadi jawaban dan memberikan pemahaman
terhadap pertanyaan yang dikaji.
Tumbuhan
terutama tumbuhan tingkat tinggi, untuk memperoleh makanan sebagai kebutuhan
pokoknya harus melakukan suatu proses yang dinamakan proses sintesis
karbohidrat yang terjadi dibagian daun satu tumbuhan yang memiliki klorofil,
dengan menggunakan cahaya matahari. Cahaya matahari merupakan sumber energi
yang diperlukan tumbuhan untuk proses tersebut. Tanpa adanya cahaya matahari
tumbuhan tidak akan mampu melakukan proses fotosintesis, hal ini disebabkan
kloropil yang berada didalam daun tidak dapat menggunakan cahaya matahari
karena klorofil hanya akan berfungsi bila ada cahaya
matahari (Dwidjoseputro, 1986).
Karbohidrat merupakan senyawa karbon yang terdapat di alam sebagai molekul
yang kompleks dan besar. Karbohidrat sangat beraneka ragam contohnya seperti
sukrosa, monosakarida, dan polisakarida. Monosakarida adalah karbohidrat yang
paling sederhana. Monosakarida dapat diikat secara bersama-sama untuk membentuk
dimer, trimer dan lain-lain. Dimer merupakan gabungan antara dua monosakarida
dan trimer terdiri dari tiga monosakarida (Kimball, 2002).
Fotosintesis
adalah suatu proses biokimia pembentukan
zat makanan atau energi yaitu glukosa yang dilakukan tumbuhan, alga, dan beberapa jenis bakteri dengan
menggunakan zat hara, karbondioksida, dan air serta dibutuhkan bantuan energi
cahaya matahari. Hampir semua makhluk hidup bergantung dari
energi yang dihasilkan dalam fotosintesis. Akibatnya fotosintesis menjadi
sangat penting bagi kehidupan di bumi. Fotosintesis juga
berjasa menghasilkan sebagian besar oksigen yang terdapat di atmosfer bumi. Organisme
yang menghasilkan energi melalui fotosintesis (photos berarti cahaya)
disebut sebagai fototrof (Kimball,
2002).
Fotosintesis
merupakan salah satu cara asimilasi karbon karena dalam fotosintesis
karbon bebas dari CO2 diikat (difiksasi)
menjadi gula sebagai
molekul penyimpan energi Cara lain yang ditempuh organisme untuk mengasimilasi
karbon adalah melalui kemosintesis, yang dilakukan oleh sejumlah
bakteri belerang. Meskipun masih ada langkah-langkah dalam
fotosintesis yang belum dipahami, persamaan umum fotosintesis telah diketahui
sejak tahun 1800-an. Pada awal tahun 1600-an, seorang dokter dan
ahli kimia, Jan van Helmont, seorangFlandria (sekarang
bagian dari Belgia), melakukan
percobaan untuk mengetahui faktor apa yang menyebabkan massa tumbuhan bertambah
dari waktu ke waktu. Dari penelitiannya, Helmont menyimpulkan bahwa
massa tumbuhan bertambah hanya karena pemberian air. Namun, pada
tahun 1727, ahli
botani Inggris, Stephen Hales berhipotesis bahwa pasti ada
faktor lain selain air yang berperan. Ia mengemukakan bahwa sebagian makanan
tumbuhan berasal dari atmosfer dan cahaya yang terlibat dalam proses tertentu.
Pada saat itu belum diketahui bahwa udara mengandung unsur gas yang berlainan
(Wikipedia, 2012).
Tumbuhan
terutama tumbuhan tingkat tinggi, untuk memperoleh makanan sebagai kebutuhan
pokoknya agar tetap bertahan hidup, tumbuhan tersebut harus melakukan suatu
proses yang dinamakan proses sintesis karbohidrat yang terjadi dibagian daun
satu tumbuhan yang memiliki kloropil, dengan menggunakan cahaya matahari.
Cahaya matahari merupakan sumber energi yang diperlukan tumbuhan untuk proses
tersebut. Tanpa adanya cahaya matahari tumbuhan tidak akan mampu melakukan
proses fotosintesis, hal ini disebabkan kloropil yang berada didalam daun tidak
dapat menggunakan cahaya matahari karena kloropil hanya akan berfungsi bila ada
cahaya matahari (Dwidjoseputro, 1986)
Karbohidrat
merupakan senyawa karbon yang terdapat di alam sebagai molekul yang kompleks
dan besar. Karbohidrat sangat beraneka ragam contohnya seperti sukrosa,
monosakarida, dan polisakarida. Monosakarida adalah karbohidrat yang paling
sederhana. Monosakarida dapat diikat secara bersama-sama untuk membentuk dimer,
trimer dan lain-lain. Dimer merupakan gabungan antara dua monosakarida dan
trimer terdiri dari tiga monosakarida (Kimball, 2002).
Fotosintesis
berasal dari kata foton yang berarti cahaya dan sintesis yang berarti
penyusunan. Jadi fotosintesis adalah proses penyusunan dari zat organic H2O dan
CO2 menjadi senyawa organik yang kompleks yang memerlukan cahaya. Fotosintesis
hanya dapat terjadi pada tumbuhan yang mempunyai klorofil, yaitu pigmen yang
berfungsi sebagai penangkap energi cahaya matahari (Kimball, 2002).
Energi
foton yang digunakan untuk menggerakkan elektron melawanan gradient panas di
dalam fotosistem I dari sebuah agen dengan tenaga reduksi kuat, yang secara
termodinamis mampu mereduksi CO2 di dalam fotosistem II dari air dengan
pelepasan O2, jika sebuah molekul pigmen menyerap sebuah foton masuk ke dalam
sebuah keadaan tereksitasi, karena satu elektronnya pada keadaan dasar pindah
ke orbit (Anwar, 1984).
Orang
yang pertama kali menemukan fotosintesis adalah Jan Ingenhousz. Fotosintesis
merupakan suatu proses yang penting bagi organisme di bumi, dengan fotosintesis
ini tumbuhan menyediakan bagi organisme lain baik secara langsung maupun tidak
langsung. Jan Ingenhosz melakukan percobaan dengan memasukkan tumbuhan Hydrilla
verticillata ke dalam bejana yang berisi air. Bejana gelas itu ditutup dengan
corong terbalik dan diatasnya diberi tabung reaksi yang diisi air hingga penuh,
kemudian bejana itu diletakkan di terik matahari. Tak lama kemudian muncul
gelembung udara dari tumbuhan air itu yang menandakan adanya oksigen (Kimball,
1993).
Pada
tahun 1860, Sach membuktikan bahwa fotosintesis menghasilkan amilum. Dalam
percobaannya tersebut ia mengguanakan daun segar yang sebagian dibungkus dengan
kertas timah kemudian daun tersebut direbus, dimasukkan kedalam alkoholdan
ditetesi dengan iodium. Ia menyimpulkan bahwa warna biru kehitaman pada daun yang
tidak ditutupi kertas timah menanda
BIODIVERSITAS
Keanekaragaman
hayati (biodiversitas) adalah keanekaragaman organisme yang menunjukkan
keseluruhan variasi gen, jenis, dan ekosistem pada suatu daerah. Keanekaragaman
hayati melingkupi berbagai perbedaan atau variasi bentuk, penampilan, jumlah,
dan sifat-sifat yang terlihat pada berbagai tingkatan, baik tingkatan gen,
tingkatan spesies, maupun tingkatan ekosistem. Gampangnya, keanekaragaman
hayati adalah semua jenis perbedaan antar mahkluk hidup.
Berdasarkan
hal tersebut, para pakar membedakan keanekaragaman hayati menjadi tiga
tingkatan, yaitu keanekaragaman gen, keanekaragaman jenis, dan keanekaragaman
ekosistem.
1.
Keanekaragaman gen
Gen
atau plasma nuftah adalah substansi kimia yang menentukan sifat keturunan yang
terdapat di dalam kromosom. Setiap individu mempunyai kromosom yang membawa
sifat menurun (gen) dan terdapat di dalam inti sel. Perbedaan jumlah dan
susunan faktor menurun tersebut akan menyebabkan terjadinya keanekaragaman gen.
Makhluk
hidup satu spesies (satu jenis) bisa memiliki bentuk, sifat, atau ukuran yang
berbeda. Bahkan pada anak kembar sekalipun terdapat perbedaan. Semua perbedaan
yang terdapat dalam satu spesies ini disebabkan karena perbedaan gen.
Perbedaan
sesama ayam (satu spesies) termasuk keanekaragaman gen
Jadi,
keanekaragaman gen adalah segala perbedaan yang ditemui pada makhluk hidup
dalam satu spesies. Contoh keanekaragaman tingkat gen ini misalnya, tanaman
bunga mawar putih dengan bunga mawar merah yang memiliki perbedaan, yaitu
berbeda dari segi warna. Atau perbedaan apa pun yang ditemui pada sesama ayam
petelor dalam satu kandang.
2.
Keanekaragaman jenis
Spesies
atau jenis memiliki pengertian, individu yang mempunyai persamaan secara
morfologis, anatomis, fisiologis dan mampu saling kawin dengan sesamanya
(interhibridisasi) yang menghasilkan keturunan yang fertil (subur) untuk
melanjutkan generasinya. Kumpulan makhluk hidup satu spesies atau satu jenis
inilah yang disebut dengan populasi.
Keanekaragaman
jenis adalah segala perbedaan yang ditemui pada makhluk hidup antar jenis atau
antar spesies. Perbedaan antar spesies organisme dalam satu keluarga lebih
mencolok sehingga lebih mudah diamati daripada perbedaan antar individu dalam
satu spesies (keanekaragaman gen).
Keanekaragaman
jenis adalah perbedaan makhluk hidup antar spesies. Contohnya sangat banyak.
Contohnya,
dalam keluarga kacang-kacangan dikenal kacang tanah, kacang buncis, kacang
hijau, kacang kapri, dan lain-lain. Di antara jenis kacang-kacangan tersebut
kita dapat dengan mudah membedakannya karena di antara mereka ditemukan ciri
khas yang sama. Akan tetapi, ukuran tubuh atau batang, kebiasaan hidup, bentuk
buah dan biji, serta rasanya berbeda.
Contoh
lainnya terlihat keanekaragaman jenis pada pohon kelapa, pohon pinang, dan juga
pada pohon palem.
3.
Keanekaragaman ekosistem
Ekosistem
dapat diartikan sebagai hubungan atau interaksi timbal balik antara makhluk
hidup yang satu dengan makhluk hidup lainnya dan juga antara makhluk hidup
dengan lingkungannya. Suatu lingkungan tidak hanya dihuni oleh satu jenis
makhluk hidup saja, tetapi juga akan dihuni oleh jenis makhluk hidup lain yang
sesuai. Akibatnya, pada lingkungan tersebut akan dihuni berbagai makhluk hidup
berlainan jenis yang hidup berdampingan.
Perbedaan
komponen abiotik (tidak hidup) pada suatu daerah menyebabkan jenis makhluk
hidup (biotik) yang dapat beradaptasi dengan lingkungan tersebut berbeda-beda.
Komponen biotik dan abiotik di berbagai daerah tersebut juga bervariasi baik
mengenai kualitas maupun kuantitasnya. Variasi kondisi komponen abiotik yang
tinggi ini akan menghasilkan keanekaragaman ekosistem. Contoh ekosistem adalah:
hutan hujan tropis, hutan gugur, padang rumput, padang lumut, gurun pasir,
sawah, ladang, air tawar, air payau, laut, dan lain-lain.
Jadi
keanekaragaman ekosistem adalah segala perbedaan yang terdapat antar ekosistem.
Keanekaragaman ekosistem ini terjadi karena adanya keanekaragaman gen dan
keanekaragaman jenis (spesies).
Keanekaragaman
ekosistem terbentuk karena keanekaragaman gen dan keanekaragaman spesies
Contoh
keanekaragaman hayati tingkat ekosistem misalnya: pohon kelapa banyak tumbuh di
daerah pantai, pohon aren tumbuh di pegunungan, sedangkan pohon palem dan
pinang tumbuh dengan baik di daerah dataran rendah.
Simpulannya
adalah, keanekaragaman gen menyebabkan munculnya keanekaragaman species, dan
akhirnya menyebabkan munculnya keanekaragaman ekosistem. Itu semua disebut
keanekaragaman hayati.
Jaringan parenkim
Jaringan parenkim disebut sebagai jaringan dasar karena banyak dijumpai
hampir ditiap bagian tumbuhan, dengan karakteristik sel berupa sel hidup,
struktur dan fungsi sangat bervariasi, bervakuola besar, dinding sel tipis,
terdapat kloroplas dan pigmen lainnya (Hidayat,1995).
Berdasarkan bentuk, parenkim dibagi menjadi beberapa jenis yakni parenkim
palisade dengan bentuk bulat memanjang atau lonjong yang berjajar seperti tiang atau pagar dan dalam parenkim palisade ini terdapat sel
klorofil atau zat hijau
daun. Bunga karang dengan ruang antar rongga yang sangat besar dan tidak
beraturan, pada bunga karang terdapat klorofil dalam jumlah kecil (tidak
seperti palisade). Parenkim bintang, dinamakan sesuai bentuknya yang menyerupai
bintang karena bersegi lima menjuntai atau lebih. Dan parenkim lipatan yang
terdapat pada pinus dan padi, dengan bentuk yang berlipat ke arah dalam serta
banyak mengandung kloroplas (Polunin,
1994).
Sedangkan berdasar fungsi, parenkim dibedakan menjadi
parenkim asimilasi yaitu sebagai pembuat zat makanan bagi tumbuhan yang
diproses dari fotosintesa di daun. Parenkim penimbun berfungsi dalam menyimpan
cadangan makanan bagi tumbuhan berupa hasil fotosintesa, seperti protein,
amilum, gula tepung, atau lemak. Parenkim air berfungsi sebagai tempat
menyimpan air pada tumbuhan xerofit atau epifit (sedikit air) untuk menghadapi kemarau. Parenkim udara disebut
sebagai aerenkim bertugas menyimpan udara dalam kantung besarnya, terdiri dari
sel gabus dengan rongga yang besar sehingga membantu menjaga kelebihan air pada
tumbuhan dengan habitat perairan. Dan parenkim pengangkut bertugas mengangkut
sari makanan hasil proses fotosintesa ke seluruh bagian tumbuhan, sel sesuai
dengan bentuk memanjang arah pengangkutannya(Wilking, 1989).
Jaringan parenkim dijumpai
pada kulit batang, kulit akar, daging, daun, daging buah dan endosperm. Bentuk
sel parenkim bermacam-macam. Sel parenkim yang mengandung klorofil disebut
klorenkim, yang mengandung rongga-rongga udara disebut aerenkim. Penyimpanan
cadangan makanan dan air oleh tubuh tumbuhan dilakukan oleh jaringan parenkim(Kimball,1983).
Jaringan yang menempati di
berbagai organ atau jaringan lain dalam tubuh tanaman di sebut jaringan
parenkim, sedangkan cirri-ciri dari jaringan parenkim adalah (Sarwono, 2002):
. Selnya
hidup
. Dinding
sel tipis
. Letak
sel tidak merapat
. Ukuran
sel besar
Contoh jaringan Parenkim adalah (Estiti, 1995):
. Korteks batang dan akar yang terletak di sebelah dalam epidermis.
Klorenkim yaitu jaringan korteks berklorofil. Batang kaktus mempunyai
klorenkim disebut juga dengan daging daun, terbagi atas: jaringan palisade
(jaringan tiang/ pagar) dan jaringan spon (jaringan bunga karang).
Fungsi dari jaringan parenkim
adalah (Sarwono, 2002):
. Jaringan yang berklorofil untuk berfotosintesis.
. Untuk transportasi ekstrafasikuler.
. Tempat penyimpanan makanan cadangan.
Tangkai daun
bunga kana (Canna indica)
Menurut
pengamatan kami pada tangkai daun bunga kana ini terdapat aerenkim dan parenkim
udara dengan penyusun bercabang seperti bintang dengan ruang antar sel besar.
Sedangkan menurut Sutrian (1992), parenkim udara (aerenkim)adalah
jaringan parenkim yang mampu menyimpan udara karena mempunyai ruang antar sel
yang besar. Aerenkim banyak terdapat pada batang dan daun tumbuhan hidrofit.
parenkim udara sering dijumpai pada tumbuhan angiospermae yang hidrofit atau
hidup di air, ruang-ruang antar selnya mempunyai volume yang nyatanya relatif
besar. Ruang-ruang antar sel juga saling berhubungan antara yang satu dengan
yang lain. Dengan kondisi yang demikian, maka bagi tumbuhan tersebut, udara yang terdapat dalam ruang antar sel itu tidak saja memberikan
sistem aerasi yang baik, melainkan memberikan kemampuan bagi tumbuhan agar
dapat terapung dalam air. Hal ini menggambarkan bahwa hasil pengamatan kami tidak
sesuai dengan literature. Pada literature di sebutkan parenkim udara banyak
ditemukan pada tumbuhan hidrofit, sedangkan kana tidak termasuk tumbuhan
hidrofit.
Tangkai genjer
Menurut
pengamatan kami pada tangkai genjer ini terdapat ruang antar sel, dinding sel
dan klorofil, sedangkan pada tangkai genjer ini termasuk parenkim udara dengan
sel penyusun isodiametris.
Tangkai genjer ruang antar selnya besar, sel- sel penyusunnya bulat sebagai
alat pengapung di air, misalnya parenkim pada tangkai genjer.
Dau kaktus (Opuntia)
Parenkim air terdapat pada tumbuhan yang hidup di daerah panas (xerofit)
untuk menghadapi masa kering, misalnya pada tumbuhan kaktus dan lidah buaya.
Menurut Sutrian (1992), dalam parenkim air banyak mengandung air, dimana
air terikat dalam vakuola dari sel-sel secara aktif. Hal ini berkaitan dengan
adaptasi penyimpanan air. Parenkim air banyak dijumpai pada tumbuhan xerofit
atau epifit sebagai penyimpan air untuk menghadapi kedaan kering. Hal ini menggambarkan bahwa hasil pengamatan kami sesuai
dengan literature bahwa pada tumbuhan xerofit atau epifit terdapat parenkim air
yang guna untuk keperluan tumbuhan tersebut terhadap kebutuhan air.
Daun kembang
sepatu (Hibiscus rosasinensis)
Menurut Santoso (1987), parenkim palisade merupakan penyusun mesofil daun,
kadang-kadang pada biji, dengan bentuk sel panjang, tidak mengandung banyak
kloroplas. Masing-masing sel jaringan ini mempunyai sitoplasma (yang
seakan-akan membentuk lapisan tipis yang melekat pada dinding sel), sebuah inti
sel dan sebuah vakuola besar dimana di dalamnya terdapat air atau lender.
4.2.5 Kulit
buah pisang (Musa paradisiaca)
Menurut
pengamatan kami pada kulit buah pisang ini terdapat parenkim butir-butir pati
dan butir-butir tepung.
Sedangkan menurut Kimball (1993), sel-sel parenkim sering mengandung
kristal-kristal, lemak, minyak, dan sekresi lain, zat tepung, butir
aleuron, dan plastida. Plastida merupakan daerah yang terbanyak yang tidak
terkena cahaya matahari dan disebut sebagai plastida tidak berwarna. Hal ini menggambarkan bahwa hasil pengamatan kami sesuai dengan
literatur bahwa pada parenkim terdapat butir-butir tepung.
Kacang tanah (Arachis hypogae)
Menurut pengamatan kami bahwa
pada kacang tanah terdapat butir pati dan termasuk parenkim butir-butir pati.
Menurut
Soerodikoesoemo (1987), ciri khas parenkim antara lain sel-selnya banyak
mempunyai ruang-ruang antar sel karena sel-selnya membulat, meskipun terdapat
prenkim yang tidak terdapat ruang antar sel. Hal ini emnggambarkan bahwa hasil
pengamatan kami sesuai dengan referensi bahwa terdapat ruang-ruang antar sel
pada sel parenkim.
Jagung (Zea mays)
Menurut pengamatan kami bahwa pada jaging terdapat jaringan pengangkut dan
termasuk parenkim aerenkim.
Jagung merupakan tanaman mokotil.Tanaman vegetatif mewakili generasi
sporofita diploid.Meiosis terjadi pada bunga jantan diwakili oleh tassels dan
bunga betina oleh ears.Mikrospora haploid (spora jantan) berkembang menjadi
serbuk sari dan megaspore haploid (spora betina) membelah secara mitosis
membentuk megagametofita.Telur dibentuk di dalam megagametofita.Penyerbukkan
mengarah kepembentukkan buluh serbu sari yang berisi dua sel sperma
(mikrogametofita).Terakhir, hasil penyerbukkan ganda membentuk zigot diploid,
tahap pertama terbentuk generasi baru sporofit dan tahap akhir sel endosperma
triploid (Tjitrosoepomo, 2005).
Sedangkan menurut Sutrian (1992), parenkim udara (aerenkim)adalah
jaringan parenkim yang mampu menyimpan udara karena mempunyai ruang antar sel
yang besar. Aerenkim banyak terdapat pada batang dan daun tumbuhan hidrofit.
parenkim udara sering dijumpai pada tumbuhan angiospermae yang hidrofit atau
hidup di air, ruang-ruang antar selnya mempunyai volume yang nyatanya relatif
besar. Ruang-ruang antar sel juga saling berhubungan antara yang satu dengan
yang lain. Dengan kondisi yang demikian, maka bagi tumbuhan tersebut, udara yang terdapat dalam ruang antar sel itu tidak saja memberikan
sistem aerasi yang baik, melainkan memberikan kemampuan bagi tumbuhan agar
dapat terapung dalam air. Hal ini menggambarkan bahwa hasil pengamatan kami
tidak sesuai dengan literature. Pada literature di sebutkan parenkim udara
banyak ditemukan pada tumbuhan hidrofit, sedangkan jagung tidak termasuk
tumbuhan hidrofit.
Pengertian Lumut Kerak (Lichenes)
Lumut kerak merupakan simbiosis antara jamur dan
ganggang. Lumut kerak hidup sebagai epifit pada pepohonan. Lumut kerak juga
tumbuh di atas tanah, terutama daerah tundra di sekitar Kutub Utara. Selain
itu, lumut kerak dapat hidup di segala ketinggian di
atas batu cadas, di tepi pantai, sampai di gunung-gunung yang tinggi. Lumut
kerak dapat berperan dalam pembentukan tanah dan menghancurkan batu-batuan yang
cadas sehingga lumut kerak disebut juga sebagai tumbuhan perintis.
Perkembangbiakan lumut kerak yang
lebih sering dijumpai adalah perkembangbiakan secara vegetatif dengan
fragmentasi atau dengan soredium. Soredium terdiri dari satu atau beberapa
ganggang yang terbungkus oleh hifa jamur. Talus yang patah maupun soredium
dapat terbawa angin atau air ke tempat lain dan tumbuh membentuk lumut kerak
yang baru.
Lumut kerak berperan penting dalam
suksesi karena kemampuannya tumbuh pada tempat yang tidak memungkinkan bagi
tumbuhan untuk hidup. Lumut kerak dapat hidup pada bebatuan yang secara
perlahan menghancurkannya sehingga membentuk lapisan-lapisan tanah, Lumut kerak
Cladonia yang menutupi wilayah yang luas di daerah kutub utara menjadi makanan
bagi ternak dan hewan liar yang hidup di sana. Selain itu lumut kerak banyak
digunakan sebagai bahan obat, digunakan dalam industri kimia, parfum, dalam proses pewarnaan dan penyamakan serta digunakan sebagai
indikator tingkat polusi di sekitar daerah yang ditempatinya.
Contoh lumut kerak adalah sebagai
berikut.
1) Parmelia, hidup pada kulit kayu,
tanah, tembok, dan batu.
2) Graphis, hidup pada cabang atau
batang pohon
3) Usnea, lumut janggut, pada
batang-batang pohon dipegunungan dan dapat digunakan untuk jamu.
a. Ciri-Ciri Lumut Kerak
Lumut kerak adalah makhluk hidup yang tahan terhadap
kekeringan dalam waktu yang lama. Pada saat kekeringan dan tersengat matahari
secara terus-menerus, lumut ini akan kering, tetapi tidak mati. Pada saat turun
hujan, lumut kerak tumbuh kembali. Ciri lain lumut kerak adalah pertumbuhan
talusnya yang lambat. Dalam satu tahun, pertumbuhan talusnya kurang dari 1 cm.
Lumut kerak tersusun atas lumut dan ganggang. Ganggang
yang bersimbiosis mutualisme dengan lumut disebut dengan gonidium. Ada yang
bersel satu dan ada yang berkoloni. Umumnya, gonidium ini adalah
ganggang biru (Cyanophyta), seperti Chroococcus dan
Nostoc, tetapi ada juga yang bersimbiosis dengan ganggang hijau (Chlorophyta),
seperti Cystococcus dan Trentepohlia.
Dari simbiosis ini, jamur memperoleh makanan hasil
fotosintesis ganggang karena ganggang bersifat autotrof. Sementara itu, jamur
yang heterotrof dapat menyediakan air, mineral, dan melakukan pertukaran
gas serta melindungi ganggang. Selain itu, lumut kerak
ini juga dapat mengikat nitrogen udara.
b. Reproduksi Lumut Kerak
Reproduksi lumut kerak secara aseksual dilakukan
dengan fragmentasi. Pelepasan potongan lumut kerak di tempat yang sesuai dapat
tumbuh menjadi tumbuhan lumut kerak baru. Selain itu, reproduksi aseksual dapat
dilakukan dengan jatuhnya soredia (sel ganggang yang terbungkus hifa dan
berwarna putih) di tempat yang sesuai maka sel tersebut akan tumbuh menjadi
lumut kerak baru.
Reproduksi seksual lumut kerak dilakukan oleh tiap-tiap
makhluk hidup. Jamur dan ganggang melakukan reproduksi seksual sendiri-sendiri.
Jika spora jamur jatuh di atas ganggang, kemungkinan akan terjadi simbiosis
lagi dan akan tumbuh lumut kerak baru.
c. Peran Lumut Kerak bagi Kehidupan Manusia
Lumut kerak
dapat dimanfaatkan oleh manusia sebagai bahan pembuat obat, penambah rasa dan
aroma, indikator pencemaran udara, pigmennya dapat digunakan sebagai bahan
kertas lakmus celup atau indikator pH, dan di daerah batu-batuan lumut kerak
dapat melapukkan batuan sebagai awal pembentukan
Penutupan stomata
Sebagian
besar transpirasi terjadi melalui stomata karena kutikula secara relatif tidak
tembus air, dan hanya sedikit transpirasi yang terjadi apabila stomata
tertutup. Jika stomata terbuka lebih lebar, lebih banyak pula kehilangan air
tetapi peningkatan kehilangan air ini lebih sedikit untuk mesing-mesing satuan
penambahan lebar stomata .Faktor utama yang mempengaruhi pembukaan dan
penutupan stomata dalam kondisi lapangan ialah
1.tingkat
cahaya dan kelembapan.
2. Jumlah dan ukuran stomata : Jumlah dan
ukuran stomata, dipengaruhi oleh genotipe dan lingkungan mempunyai pengaruh
yang lebih sedikit terhadap transpirasi total daripada pembukaan dan penutupan
stomata.
3.
Jumlah daun : Makin luas daerah permukaan daun, makin besar transpirasi.
4.
Penggulungan atau pelipatan daun : Banyak tanaman mempunyai mekanisme
dalam daun yang menguntungkan pengurangan transpirasi apabila persediaan air
terbatas.
5.
Kedalaman dan proliferasi akar : Ketersedian dan pengambilan kelembapan
tanah oleh tanaman budidaya sangat tergantung pada kedalaman dan proliferasi
akar. Perakaran yang lebih dalam meningkatkan ketersediaan air, dari
proliferasi akar (akar per satuan volume tanah ) meningkatkan pengambilan air
dari suatu satuan volume tanah sebelum terjadi pelayuan permanen. B. Faktor luar adalah
1. Sinar matahari Seperti yang telah
dibicarakan didepan, maka sinar menyebabkan membukanya stoma dan gelap
menyebabkan tertutupnya stoma, jadi banyak sinar berarti juga mempergiat
transpirasi. Karena sinar itu juga mengandung panas (terutama sinar
infra-merah), maka banyak sinar berarti juga menambah panas, dengan demikian
menaikkan tempratur. Kenaikan tempratur sampai pada suatu batas yang tertentu
menyebabkan melebarnya stoma dan dengan demikian memperbesar transpirasi .
2.
Temperatur Merupakan faktor lingkungan yang terpenting yang mempengaruhi
transpirasi daun yang ada dalam keadaan turgor. Suhu daun di dalam naungan
kurang lebih sama dengan suhu udara, tetapi daun yang kena sinar matahari
mempunyai suhu 10o -20o F lebih tinggi daripada suhu udara. Pengaruh tempratur
terhadap transpirasi daun dapat pula ditinjau dari sudut lain, yaitu didalam
hubungannya dengan tekanan uap air di dalam daun dan tekanan uap air di luar
daun. Kenaikan temperatur menambah tekanan uap di dalam daun. Kenaikan
tempratur itu sudah barang tentu juga menambah tekanan uap di luar daun, akan
tetapi berhubung udara di luar daun itu tidak di dalam ruang yang terbatas,
maka tekanan uap tiada akan setinggi tekanan uap yang terkurung didalam daun.
Akibat dari pada perbedaan tekanan ini, maka uap air akan mudah berdifusi dari
dalam daun ke udara bebas
3. Kebasahan udara (Kelembaban udara) Pada
hari cerah udara tidak banyak mengandung uap air. Di dalam keadaan yang
demikian itu, tekanan uap di dalam daun jauh lebih lebih tinggi dari pada
tekanan uap di luar daun, atau dengan kata lain, ruang di dalam daun itu lebih
kenyang akan uap air daripada udara di luar daun, jadi molekul-molekul air berdifusi
dari konsentrasi tinggi (di dalam daun) ke konsentrasi yang rendah (di luar
daun. Kesimpulannya ialah, udara yang basah menghambat transpirasi, sedang
udara kering melancarkan transpirasi. Pada kondisi alamiah, udara selalu
mengandung uap air, biasanya dengan konsentrasi antara 1 sampai 3 persen.
Sebagian dari molekul air tersebut bergerak ke dalam daun melalui stomata
dengan proses kebalikan transpirasi. Laju gerak masuknya molekul uap air
tersebut berbanding dengan konsentrasi uap air udara, yaitu kelembaban. Gerakan
uap air dari udara ke dalam daun akan menurunkan laju neto dari air yang
hilang. Dengan demikian, seandainya faktor lain itu sama, transpirasi akan
menurun dengan meningkatnya kelembaban udara
4.
Angin Pada umumnya angin yang sedang, menambah kegiatan transpirasi.
Karena angin membawa pindah uap air yang bertimbun-timbun dekat stoma. Dengan
demikian, maka uap yang masih ada di dalam daun kemudian mendapat kesempatan
untuk difusi ke luar . Angin mempunyai pengaruh ganda yang cenderung saling
bertentangan terhadap laju transpirasi. Secara singkat dapat disimpulkan bahwa
angin cenderung untuk meningkatkan laju transpirasi, baik di dalam naungan atau
cahaya, melalui penyapuan uap air. Akan tetapi, di bawah sinar matahari,
pengaruh angin terhadap penurunan suhu daun, dengan demikian terhadap penurunan
laju transpirasi, cenderung lebih penting daripada pengaruhnya terhadap
penyingkiran uap air. Dalam udara yang sangat tenang suatu lapisan tipis udara
jenuh terbentuk di sekitar permukaan daun yang lebih aktif bertranspirasi. Jika
udara secara keseluruhan tidak jenuh, maka akan terdapat gradasi konsentrasi
uap air dari lapisan udara jenuh tersebut ke udara yang semakin jauh semakin
tidak jenuh. Dalam kondisi seperti itu transpirasi terhenti karena lapisan
udara jenuh bertindak sebagai penghambat difusi uap air ke udara di sekitar
permukaan daun. Oleh karena itu, dalam udara yang tenang terdapat dua tahanan
yang harus ditanggulangi uap air untuk berdifusi dari ruang-ruang antar sel ke
udara luar. Yang pertama adalah tahanan yang harus dilalui pada lubang-lubang
stomata, dan yang kedua adalah tahanan yang ada dalam lapisan udara jenuh yang
berdampingan dengan permukaan daun. Oleh karena itu dalam udara yang bergerak,
besarnya lubang stomata mempunyai pengaruh lebih besar terhadap transpirasi
daripada dalam udara tenang. Namun, pengaruh angin sebenarnya lebih kompleks
daripada uraian tadi karena kecendrungannya untuk meningkatkan laju transpirasi
sampai tahap tertentu dikacaukan oleh kecendrungan untuk mendinginkan daun-daun
sehingga mengurangi laju transpirasi. Tetapi efek angin secara keseluruhan
adalah selalu meningkatkan transpirasi
5. Keadaan air dalam tanah Air di dalam
tanah ialah satu-satunya suber yang pokok, dari mana akar-akar tanaman
mendapatkan air yang dibutuhkannya. Absorpsi air lewat bagian-bagian lain yang
ada di atas tanah seperti batang dan daun juga ada, akan tetapi pemasukan air
lewat bagian-bagian itu tiada seberapa kalau dibanding dengan penyerapan air
melalui akar. Tersedianya air dalam tanah adalah faktor lingkungan lain yang
mempengaruhi laju transpirasi. Bila kondisi air tanah sedemikian sehingga
penyediaan air ke sel-sel mesofil terhambat, penurunan laju transpirasi akan
segera tampak Laju transpirasi dapat
dipengaruhi oleh kandungan air tanah dan laju absorbsi air dari akar. Pada
siang hari, biasanya air ditranspirasikan dengan laju yang lebih cepat daripada
penyerapannya dari tanah. Hal tersebut menimbulkan defisit air dalam daun. Pada
malam hari akan terjadi kondisi yang sebaliknya, karena suhu udara dan suhu
daun lebih rendah. Jika kandungan air tanah menurun, sebagai akibat penyerapan
oleh akar, gerakan air melalui tanah ke dalam akar menjadi lebih lambat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar